TUAH TOMBAK SEMAR TINANDU
Nama Semar selalu dikaitkan dengan sebuah pelet dengan kekuatan yang sangat istimewa hingga membuat target gila, akan tetapi sebenarnya untuk Tombak Semar Tinandu bukan seperti itu ya, melainkan bermakna "sesuatu hal yang disepakati/sarujuk". Sesuatu hal yang disepakati berarti apa yang kita inginkan itu disepakati, diiyakan, disediakan oleh orang lain. Sesuatu yang butuh keseimbangan akan diseimbangkan baik itu perekonomian, baik kehidupan apa pun akan seimbang, pengayoman mengayomi diri, mengayomi keluarga, harta, mengayomi murid, mengayomi orang banyak.
Kita akan menjadi orang yang dibutuhkan oleh orang banyak, menjadi orang yang disenangi orang banyak, digandrungi orang-orang banyak, menarik simpati masyarakat, menarik keberuntungan, serta Semar itu punya kekuatan yang akan membuat pemiliknya itu selalu berjodoh dengan pekerjaan apa pun, karena berbentuk Semar Tinandu, wujud Semar yang ada kiri kanan melengkapi. Persaingan apa pun unggul, untuk persaingan dagang, persaingan merebutkan jabatan, merebutkan ketenaran dan lain sebagainya.
Membuat pemiliknya akan dituruti keinginannya oleh banyak orang, akan diikuti oleh banyak orang, membuat pemiliknya omongannya berbobot berkualitas beraura yang akan dipercaya oleh banyak orang, mempengaruhi pikiran dengan ucapan dengan senyuman dan lain sebagainya. Makanya Tombak Semar Tinandu apabila disimpan itu sangat baik sekali dan Semar Tinandu sendiri itu merupakan simbol kestabilan perekonomian, kestabilan hidup, kestabilan pikiran dan lain sebagainya, memang dengan memiliki pusaka Tombak Semar Tinandu sangatlah menarik.
Perlu kita diketahui juga bahwa Tuah daripada Tombak Semar Tinandu dan Keris Semar Tinandu itu ada sedikit perbedaan. Apakah kita perlu membangkitkan lagi untuk pusaka ini? Ya jelas perlu dibangkitkan agar kekuatannya bisa sempurna.
Membangkitkan Pusaka
Caranya tanpa mantra, cukup dengan sebuah bahan yang digunakan untuk masak yaitu:
7 LEMBAR DAUN SALAM
Rendam daun salam dengan Minyak Melati selama 4 jam, kemudian minyaknya oleskan ke pusakanya. Tidak perlu disertai doa untuk pembangkitannya.
"sekedar berbagi ilmu, belajar bersama, bukan dimaharkan ilmunya melainkan gratis, begitu juga benda n pusaka sekedar pembelajaran bukan untuk dimaharkan".
Semoga berkah dan manfaat untuk sesama Aamiin...!
Wawasan Belajar Bersama (Joko Dayu)
Alhamdulillahi Robbil Aalamiin, setelah belajar 17 tahun di dunia pusaka & mustika, sarana tradisi, tuah, saat ini kami (Joko Dayu) berniat untuk membagikan hasil belajar kami. Tentunya ya belajar bersama, karena tidak ada kesempurnaan dalam belajar meskipun sampai mati nanti. Dari itu, kami mengajak saudara untuk belajar bersama menemani kami!
Dari perjalanan menggali wawasan tentunya sangat membutuhkan kesabaran, keikhlasan jangka panjang, mencari contoh barang, kemudian mendalami mestinya membutuhkan pendalaman yang lama sebelum menguasai dan sebelum terbiasa. Berbeda ketika sudah lama mendalami, akhirnya sangat terbiasa untuk menjiwai baik itu pusaka maupun mustika.
Penuh lika-liku yang melibatkan keyakinan, hingga membuat keyakinan itu sendiri dalam kondisi kritis harus menjajaki dalamnya filosofi, histori, dan lain sebagainya tentang pusaka dan mustika. Dalam keadaan yang tidak menentu itulah keyakinan mencari sandaran untuk memutuskan sesuatu yang telah diteliti dan didalami, dan sandaran itu adalah kesadaran yang penuh ketenangan tanpa ego penilaian luar, namun mementingkan batiniyah. Repot merepotkan, namun sungguh menyenangkan, karena menjadi tantangan spiritual yang melibatkan material juga harus seimbang keduanya.
Menyeimbangkan akal pikiran sampai keyakinan hingga dengan kesadaran pribadi berani memutuskan. Mengajak belajar bukan berarti kami menguasai semuanya, justru dengan menulis kami mendapatkan ingatan-ingatan kami kembali yang telah lama terlupakan; menulis sambil belajar, sambil mengingat, mengembangkan wawasan.
Bukan berlebihan dalam penyampaian. Semua akan kami tulis dengan teliti tanpa mengada-ngada yang bisa menimbulkan kesan berlebihan, semua sesuai hati saja, agar tidak menimbulkan keyakinan semu ataupun harapan palsu. Belajar adalah upaya kita untuk melestarikan dengan kesungguhan hati tanpa direkayasa dengan rasa.
Mustika atau amalan aji, japa, mantra hanyalah sarana karya Tuhan yang terciptanya, kebangkitanya di lintaskan dalam akal pikiran, keyakinan dan kesadaran manusia, bukan berhala, bukan kemusrikan, sesungguhnya berhala & kemusrikan ada dalam hati kita Masing-masing yang memuja kesombangan dan ego.
Kami berharap kita bisa menjadi golongan yang tidak melupakan karya leluhur, golongan yang bisa menghormati karya leluhur juga karya cipta Sang Maha Kuasa. Dengan belajar kita akan mengerti tentangnya serta nilainya, sehingga rasa hormat memadai tanpa ada rasa menyia-nyakan sesuatu yang berharga, inilah keadilan tanpa kedzaliman.
"Mari terus belajar untuk mendalami tinggalan leluhur serta karya Tuhan yang tiada batas, dengan belajarlah kita akan ber ilmu untuk bisa menilai, mengerti, karena hanya dengan mengerti kita bisa mencintai, dengan mencintai pula kita akan ada keinginan untuk menjaga agar lestari".
Kami harap sedikit kata ini bisa mengantarkan apa yang menjadi tujuan kami untuk bisa dimengerti oleh para dulur semua yang hendak ikut belajar dalam naungan kami. Aamiin….!
Wassalamualaikum Wr. Wb.
JOKO DAYU

Komentar
Posting Komentar