Ayam Walik adalah ayam yang bulunya terbalik ke atas. Ayam ini secara tradisi dan hikmah Jawa diyakini punya beberapa tuah yang sangat banyak. Ada ayam Walik itu yang berwarna putih mulus, ada yang berwarna hitam mulus, ada yang pancawarna (lima warna bulu), dan sebagainya yang punya tuah masing-masing.
Sebenarnya begini, kalau kita ini lihat tradisi atau kepercayaan yang memang sudah nyata kejadiannya seperti: "Apabila di pasar ayam ada beberapa pedagang ayam yang salah satu diantaranya itu membawa ayam Walik, hal itu memicu pedagang yang lain marah, karena yang lain pada ndak terjual, pada ndak laku." Seperti itu memang buktinya.
Dari itulah, ayam Walik itu sendiri kalau untuk segala persaingan—maksudnya persaingan pilihan pejabat, persaingan dagang, atau persaingan jenis apapun—menggunakan ayam Walik yang berwarna hitam.
Kalau yang berwarna putih, Walik Putih Mulus, itu khusus untuk kepemilikan. Maksudnya agar kita punya ini, punya itu, agar kita itu apa yang diinginkan, berbagai hajat keinginan duniawi yang tidak kami sebutkan satu persatu—tentunya beribu-ribu keinginan ya—termasuk agar tanah ini menjadi milik saya, bangunan itu agar menjadi milik saya, agar tanah atau apapun itu dijual ke saya, agar saya punya ini, punya itu, punya kekayaan, punya kemakmuran hidup, lunas hutang, dan lain sebagainya. Itu menggunakan ayam Walik putih mulus.
Untuk mengembalikan santet, keburukan dari orang lain (penggawe alane wong), dan sejenisnya, menggunakan ayam pancawarna, bulunya dibakar habis.
Tata Cara Ritual
Untuk apa sih ayam ini? Apakah digoreng atau apa? Begini, kalau untuk segala persaingan itu nanti bulunya itu ditanam di lokasi atau di tempat yang kita tempati. Kalau yang putih untuk kepemilikan, itu nanti bulunya itu kita larung ke sungai. Tetapi kan bukan hanya itu yang dipentingkan. Lalu bagaimana ayamnya? Yang penting kan ayamnya, bukan bulunya.
Caranya, kita buatkan tumpeng nasi golong. Semua menggunakan tumpeng nasi golong untuk jenis Walik apapun. Akan tetapi, jangan lupa ada perbedaan di sini:
- Untuk ayam putih mulus: Nanti ditambahkan sarana ritualnya bengkuang 17 buah. Untuk bumbu-bumbu lain boleh ditambahkan bebas, tetapi ya itu tadi ya, tetap nasi golong yang dilengkapi 17 butir, masing-masing dipecah menjadi dua, direbus seperti biasanya, itu nanti dibelah setelah direbus.
Lalu kita menggunakan doa yang sangat penting sekali untuk ritual ini. Doa ini menggunakan doa:
"Ya Allah Malikul Jabar" (dibaca 300 atau 1000 kali).
Tambahkan Doa Nurbuat (dibaca 7 kali).
Kemudian ayam dimakan bareng-bareng orang yang ikut tumpengan yang ada di situ.
Ini menjadi ilmu tradisi dan doa yang disatukan menjadi satu sehingga kualitas daripada kemujarabannya sendiri itu lebih besar. Harus benar-benar bisa memanfaatkan ayam seperti ini, jangan hanya dipelihara dan disembelih dimakan saja. Tentunya lebih baik kita gunakan untuk ritual yang sangat penting seperti itu tadi yang tersebut di atas. Ritual itu akan lebih mempermudah kita untuk bermunajat kepada Allah dengan sebuah tradisi yang diyakini mempercepat, memperkuat segala doa, impian, dan tujuan hidup.
Semoga berkah dan manfaat untuk sesama. Aamiin...!
"Ritual hanyalah sarana karya Tuhan yang terciptanya terwujudnya dilitaskan dalam akal pikiran, keyakinan, dan kesadaran manusia. Bukan berhala, bukan kemusyrikan. Sesungguhnya berhala dan kemusyrikan ada dalam hati kita masing-masing yang memuja kesombongan dan ego."
Semoga bermanfaat untuk semua pembaca..... Aamiin..!
"Mari terus belajar untuk mendalami tinggalan leluhur serta karya Tuhan yang tiada batas. Dengan belajarlah kita akan berilmu untuk bisa menilai, mengerti, karena hanya dengan mengerti kita bisa mencintai. Dengan mencintai pula kita akan ada keinginan untuk menjaga agar lestari."
Komentar
Posting Komentar