TUAH AGUNG PUSAKA KERIS PANJI CALURING
Keris Panji Caluring adalah pusaka dengan filosofi yang sangat amat menarik, keris dengan Tuah yang begitu memikat, begitu menggoda. Tuah daripada Keris Panji Caluring tentunya sangatlah banyak, tetapi kita harus tahu apa itu Panji Caluring.
Panji kami artikan sebagai tanda/pedoman lambang kebesaran, sedangkan Caluring sendiri ialah sebuah keburukan atau kegagalan dalam hidup; orang yang punya usaha bangkrut, orang yang bekerja juga selalu sial, hidup miskin jauh dari keberuntungan, banyak hutang gali lubang tutup lubang, hingga orang yang terkena sengkolo caluring yang hidupnya selalu susah.
Panji Caluring adalah awal dari sebuah pertanda kebesaran yang mengayomi sehingga bisa terhindar dari segala kesulitan hidup, kerusakan, kesialan, hingga kegagalan tujuan hidup. Kami mengatakan bahwa Panji Caluring adalah "satu-satunya jalan untuk kembali pulang".
Maksud dari Jalan Kembali Pulang adalah kita kembali ke fitrah manusia yang dilahirkan tanpa adanya sengkolo, tanpa kerusakan, dan tanpa beban hidup; lahir dengan sempurna, bersih, dan dalam keadaan damai. Kita kembali hidup dengan sangat baik, sesuai fitrah manusia yang diciptakan oleh Tuhan untuk hidup bahagia, makmur, agung, sentosa, berkecukupan, rezeki melimpah, dan selamat sepanjang masa.
Pusaka Keris Panji Caluring mampu menyatu dengan alam, mendapatkan dukungan alam semesta, dan menyerap segala kebaikan alam semesta untuk membawa kebaikan bagi pemiliknya. Ini adalah wujud semangat Lelananging Jagad.
Cara Membangkitkan Pusaka
Untuk membangkitkan energinya agar aktif sempurna, gunakan Minyak Melati yang dioleskan merata, kemudian bacakan doa:
"HU ALLAH"
(Dibaca 1014 x)
Biarkan selama sehari semalam, kemudian masukkan kembali ke dalam warangkanya.
Semoga berkah dan manfaat untuk sesama. Aamiin...!
Wawasan Belajar Bersama (Joko Dayu)
Alhamdulillahi Robbil Aalamiin, setelah belajar 17 tahun di dunia pusaka & mustika, sarana tradisi, dan tuah, saat ini kami (Joko Dayu) berniat untuk membagikan hasil belajar kami. Tentunya kita belajar bersama, karena tidak ada kesempurnaan dalam belajar meskipun sampai mati nanti.
Perjalanan menggali wawasan ini membutuhkan kesabaran dan keikhlasan jangka panjang. Menyeimbangkan akal pikiran sampai keyakinan hingga dengan kesadaran pribadi berani memutuskan. Mengajak belajar bukan berarti kami menguasai semuanya, justru dengan menulis, kami mendapatkan ingatan-ingatan kami kembali yang telah lama terlupakan.
"Mustika atau amalan aji, japa, mantra hanyalah sarana karya Tuhan yang terciptanya dilintaskan dalam akal pikiran, keyakinan, dan kesadaran manusia. Bukan berhala, bukan kemusyrikan. Sesungguhnya berhala & kemusyrikan ada dalam hati kita masing-masing yang memuja kesombongan dan ego."
Semoga bermanfaat untuk semua pembaca..... Aamiin..!
"Mari terus belajar untuk mendalami tinggalan leluhur serta karya Tuhan yang tiada batas. Dengan belajar kita akan berilmu untuk bisa menilai dan mengerti. Karena hanya dengan mengerti kita bisa mencintai, dan dengan mencintai pula kita akan ada keinginan untuk menjaga agar lestari."
Wassalamualaikum Wr. Wb.
PETUAH AGUNG
"Kemujaraban ilmu, kehebatan ilmu, tingkatan itu bukan karena ilmu itu warisan Nabi Khidir, warisan wali, warisan ahli hikmah ternama, tetapi istiqomah lebih utama. Dan ilmu itu kita dapatkan dari mana? Dahulu warisan siapa pun kalau gurunya tidak jelas ya sama seperti bacaan saja."
"Kita harus perhatikan yang mengisi itu siapa? Yang menurunkan ke kita siapa? Bagaimana aura dan isinya sang guru? Dia pelaku istiqomah apa tidak? Dia pelaku tirakat atau tidak? Itu sangat penting, semua ilmu adalah warisan para pendahulu. Ilmu tanpa dikasih embel-embel dulu dari..., ilmunya... andalannya si... pun sangatlah baik kalau ditirakatkan diistiqomahkan."
"Istiqomah adalah pohonnya karomah atau karomah itu buah dari istiqomah. Dari itu guru yang ahli tirakat dan pelaku istiqomah sangat besar pengaruhnya, bukan hanya sekadar yang punya buku banyak, namun yang suka lelaku tirakat dan istiqomah 1000x lebih baik. Jadi intinya cari guru yang benar berilmu, jangan hanya yang berbuku."
— Joko Dayu

Komentar
Posting Komentar