RAHASIA SESAJI PUSAKA
Sesaji pusaka bukanlah sesuatu hal yang merusak akidah, melainkan wujud dari tafakur seorang hamba untuk mendalami luasnya ilmu Allah yang dilimpahkan ke akal pikiran leluhur kita. Dari situlah kebaikan ini harus kita mengerti. Jangan sampai budi pekerti ini ternodai karena kita terburu-buru mencela cara berpikir leluhur ataupun tinggalan leluhur yang berupa sebuah tradisi. Lebih baik kita ikut mempelajari, menyelami seluas dan sedalam apa tradisi ini.
- Kenapa sih harus ada sesaji segala untuk pusaka?
- Apakah doa, tirakat, laku prihatin tidak cukup untuk mencukupkan kebutuhan pusaka?
Di sini kita bukan bicara tentang cukup dan tidaknya, akan tetapi kita harus uri-uri (melestarikan) tinggalan leluhur secara lahiriah maupun batiniah.
Secara lahiriah, pusaka diwarang, dijamasi, diminyaki untuk menjaganya. Di sisi lain, material yang bersifat lahiriah juga bertujuan untuk menjaga yang batiniah, sebuah upaya spiritual untuk menjaga kesakralan batiniah pusaka agar terjaga, sehingga tuah tidak hilang atau tidak mati. Kita jaga jasad dan ruhnya pusaka dengan sesaji, wujud dari upaya spiritual kita untuk menjaga keseimbangan serta keselarasan.
Kita harus tahu, bahwasanya pusaka tinggalan kuno rata-rata kekuatan/daya hidupnya hanya mencapai 2–4% saja. Bahkan ada yang sekarat; mati tidak, hidup pun tidak. Ada juga yang lupa akan jati dirinya, lupa akan tugasnya, lupa akan tujuan diciptakannya. Hal itu dikarenakan lama sekali tidak diyakini pemiliknya, pemilik tidak mengerti tuahnya, lama tidak dirawat, lama tidak bekerja, karena sang pemilik tidak mengerti akan kemampuan kerja dari sang pusaka. Hal ini apabila dibiarkan berlarut-larut akan membuat pusaka tersebut kehilangan jatidiri hingga kesadarannya, yang sangat mungkin membuat pusaka dalam keputusasaan tanpa arah dan sekarat.
- Lalu apa hubungannya dengan sesaji?
- Apakah sesaji ini memberi makan pada pusaka?
- Apakah sesaji ini memuja pusaka?
- Apakah sesaji ini berharap pada pusaka?
Jawabnya: "Ya jelas tidak!"
Sesaji itu punya maksud tersendiri yang sangat mendalam. Sesaji adalah wujud harapan yang diwujudkan dengan berbagai sarana, ada yang berupa makanan dan lain sebagainya. Ia adalah sebuah tradisi untuk memulai pekerjaan penting atau memperingati sesuatu hal yang penting.
Hal ini sangat bermanfaat sekali, karena pusaka yang sekarat atau kehilangan jatidiri apabila hanya dirumat saja, ditirakatkan, diwiridkan jutaan kali pun akan sulit untuk menangani itu semua. Pusaka daya aslinya sangat besar, pembuatannya menggunakan material langit dan bumi yang disatukan. Oleh sebab itu, tidak dengan cara sembarangan untuk bisa sempurna dalam penanganan. Cara itu adalah sesaji.
Dengan sesaji akan lebih mudah merangsang ingatan, hasrat, kekuatan, dan pengertian dari pusaka tersebut untuk aktif sempurna serta mengenali tuahnya. Mengapa sesaji bisa mengembalikan dan merangsang itu semua? Hal ini dikarenakan ketika pusaka melihat sesaji, ia akan teringat pada awal penciptaannya yang ditandai dengan persembahan tersebut. Semua 'program' atau energi yang dimasukkan ke dalam pusaka akan diingat kembali, sehingga dapat dikatakan ini menjadi babak baru dan semangat baru bagi sang pusaka tersebut.
UBORAMPE SESAJI PUSAKA
- Kelapa hijau yang sudah diperas/sudah dipersiapkan untuk minum.
- Lilin.
- Gula kelapa utuh (setangkep).
- Nasi punar + lauk pauk.
- Nasi gurih.
- Buah pisang raja sepasang.
- Jajan pasar.
- Buah-buahan (pala kependem, pala kesempar, dan pala gumantung).
- Wajik dan Ketan.
- Tempe.
- Ganten (bahan untuk makan sirih).
- Ayam kecil yang masih berkotek.
MAKNA SESAJI:
Sesaji itu simbol dari hasil bumi dan alam yang merupakan wujud persembahan diri manusia agar mampu menghasilkan buah kehidupannya yang berguna bagi sesama. Dipersembahkan kepada Allah.
- Kelapa Hijau: Melambangkan air suci perwitasari (air kehidupan). Dimanifestasikan dalam Aji Mundri milik Hanoman untuk menyirnakan keangkara-murkaan dengan welas asih.
- Lilin: Simbol pencerahan dan penerangan. Nyala itu hidup.
- Nasi Punar & Gurih: Manusia membersihkan diri agar semakin berwibawa dan bersinar auranya.
- Pisang Raja: Sekali hidup berbuah manfaat. Mampu menjadi raja bagi dirinya sendiri (mengendalikan nafsu).
- Ketan: Agar manusia senantiasa cekaketan (berdekatan), saling tolong-menolong dan dekat dengan Sang Pencipta.
- Suruh: Mengajak manusia ngangsu kaweruh (menimba ilmu) dan menjaga lisan.
- Ayam Berkotek: Simbol rindu akan induknya (Sang Pencipta dan orang tua).
Inti pembelajaran: Manusia harus menghormati para leluhurnya.
Biarkan sesaji sehari semalam. Bisa dilakukan malam kelahiran kita atau kapan pun kita mau. Sering memberikan sesaji akan membuat pusaka itu meningkat beberapa persen daya hidupnya.
Semoga berkah dan bermanfaat.
"Kemujaraban dan kehebatan ilmu itu bukan semata-mata karena ia warisan Nabi Khidzir, para Wali, atau ahli hikmah ternama. Istiqomah jauh lebih utama. Perhatikanlah siapa yang mengisi dan menurunkan ilmu itu kepada kita; bagaimana aura dan isi sang guru? Apakah beliau pelaku tirakat dan istiqomah?"
"Ilmu tanpa embel-embel nama besar pun akan menjadi sangat baik jika ditirakatkan dan diistiqomahkan. Istiqomah adalah pohonnya karomah, atau karomah itu adalah buah dari istiqomah. Karena itu, pengaruh guru yang ahli tirakat sangatlah besar. Carilah guru yang benar-benar berilmu (pelaku), jangan hanya yang sekadar 'berbuku' (teori)."

Komentar
Posting Komentar