Bethok Budho
Bethok Budho adalah sebutan yang sering digunakan untuk menamai pusaka yang dibuat dengan fisik sederhana ini: pendek, lebar, dan tidak banyak ricikan untuk memperindahnya.
Apa sih Bethok itu? Sekilas kita pasti akan menjawab: "Bethok ya pusaka tindih, dia induknya pusaka yang meredam aura panas, negatif, amarah, bentrok, dan pergesekan dari pusaka-pusaka lain. Bahkan ratusan pun bisa diselaraskan karena dia induknya para pusaka, mengawasi kerja semua pusaka serta momong pamomong pusaka." Pemahaman umum ini sudah tercatat pada memori pecinta pusaka sehingga ketika melihat pusaka Bethok, pemahaman itu muncul tanpa diminta.
Apakah hal itu cukup mengantarkan kita untuk mengerti tentang Bethok yang menjadi pusaka induk para pusaka tersebut? Jawabnya, tentu saja tidak cukup, masih sangat jauh.
Selain keterangan di atas, kami (Joko Dayu) akan memaparkan wawasan kami secara spiritual tentang pusaka Bethok yang telah lama kami dalami dan kami uji. Sangatlah menarik, setelah puluhan tahun mempelajari, kamipun baru mengerti kedalaman dari pusaka Bethok ini. Sangat dalam, luas, dengan pesona spiritual yang memukau dan indah tanpa rekayasa keindahan rasa.
Bethok adalah pusaka yang di dalamnya terkandung management hidup sebagai penyerap, penyaring, pemancar, penindih, pengisi, pembagi, dan pemurni untuk kekuatan serta banyak hal lainnya.
Inilah satu-satunya pusaka yang mampu menyerap kekuatan alam—baik dari angin, pohon, batu, sumber air, tanah, dan lain sebagainya. Bahkan kekuatan dari pusaka yang sudah rusak fisiknya, pusaka tak bertuan, sampai aura ilmu gaib yang sudah kehilangan pemiliknya (karena pemilik meninggal atau melanggar pantangan) bisa diserap.
Dapat dikatakan inilah pusaka yang tak terbatas, karena isinya bisa bertambah terus-menerus. Hasil serapan ini dipancarkan ke jiwa raga pemiliknya, ke ruangan, rumah, hingga seluruh hak milik, sehingga menciptakan aura yang membawa kedamaian, kemakmuran, kesehatan, kejayaan, serta rasa adem welas asih.
Apakah sulit melakukannya?
Tidaklah sulit, biasanya sambil ngopi pun bisa. Kami suka membawa si Bethok sebagai teman ngopi. Cukup buka sebentar dari warangkanya, tempelkan ibu jari kiri di tengah-tengah antara bilah pusaka dengan gonjo sambil menghadiahkan Al-Fatihah untuk empu pembuatnya dan untuk jasad serta ruh pusaka tersebut. Niatkan agar menyerap kekuatan alam secara sempurna, masukkan lagi ke warangka, lalu taruh di meja atau lantai. Reaksinya sangat nyata.
Bethok merupakan induk dari para pusaka, hal itu yang membuatnya tidak banyak gaya dan memiliki ricikan sederhana. Semua sudah ada di dalamnya—baik tuah maupun potensi penggunanya. Keunggulan Bethok melambangkan kesederhanaan namun memiliki banyak rahasia hidup. Bethok itu tindih: menindih, menekan, mendampingi, istiqomah, dengan keyakinan tak tergoyahkan. Ia adalah kiblat atau pusat segala harapan.
Kata "menindih" ini bisa diartikan sebagai peredam emosi diri maupun lawan, menindih aura jahat seperti santet, tenung, atau gangguan jin tanpa menghancurkan dengan kekerasan. Karena kekerasan menimbulkan dendam, sedangkan Bethok menindih rasa ingin menyerang hingga sirna secara halus tanpa sisa dendam.
Pusaka dengan wadaq (wadah) terbesar hanyalah Bethok. Ia bukan sekadar booster atau induk, melainkan sandaran keyakinan dan penyemangat bagi pusaka-pusaka lainnya. Ia memimpin tanpa pamer kemampuan.
Pusaka hanyalah sarana karya Tuhan yang tercipta melalui akal pikiran dan kesadaran sang empu. Bukan berhala, bukan kemusyrikan. Sesungguhnya berhala dan kemusyrikan ada dalam hati masing-masing yang memuja kesombongan dan ego.
Semoga bermanfaat untuk semua pembaca….. Aamiin!
"Kemujaraban dan kehebatan ilmu itu bukan semata-mata karena ia warisan Nabi Khidzir, para Wali, atau ahli hikmah ternama. Istiqomah jauh lebih utama. Perhatikanlah siapa yang mengisi dan menurunkan ilmu itu kepada kita; bagaimana aura dan isi sang guru? Apakah beliau pelaku tirakat dan istiqomah?"
"Ilmu tanpa embel-embel nama besar pun akan menjadi sangat baik jika ditirakatkan dan diistiqomahkan. Istiqomah adalah pohonnya karomah, atau karomah itu adalah buah dari istiqomah. Karena itu, pengaruh guru yang ahli tirakat sangatlah besar. Carilah guru yang benar-benar berilmu (pelaku), jangan hanya yang sekadar 'berbuku' (teori)."

Komentar
Posting Komentar